Home » Headline, Opini

Hari-hari di bulan Oktober yg telah Berakhir

2 November 2009 2 Comments Kontributor: andistididi
Oleh Diana Dwi Susanti. Ada 1 artikel dari penulis yang sama.

calendar-piece

Sumber Gambar: link

Satu bulan sudah, hari-hari di bulan Oktober yang panas kita lewati. Beribu kejadian yang telah kita lalui. Ada yang menyenangkan bagi sebagian kalangan, dan ada yang menyedihkan bagi kalangan yang lainnya. Sesuatu yang wajar bagi kehidupan di dunia ini.

Bulan ini Nusantara kita diawali dengan peringatan Kesaktian Pancasila. Meski kadang kita susah juga untuk menjelaskan pada anak-anak kita, dimana letak kesaktiannya.Yang ada di ingatan kita hanyalah secuil “cerita” waktu kita masih kecil dulu. Dan terkadang, cerita itulah yang kemudian secara tidak sadar kita sampaikan ulang kepada anak-anak kita. Tentang bagaimana kejamnya sebuah usaha penghianatan terhadap kekuasaan negara kita. Dan negara kita, tetap terjaga karena “kesaktiannya”.

Dan, kali ini kita memperingati hari Kesaktian Pancasila itu dengan perasaan sedih. Perasaan terluka buat seluruh bangsa Indonesia. Karena terlalu banyak bencana yang datang menimpa. Bertubi-tubi tanpa permisi. Silih berganti tanpa mau peduli. Dari satu lokasi ke lain lokasi. Dan, ternyata rakyat kita benar-benar telah teruji. Benar-benar Rakyat yang berbudi. Silih berganti saling memberi. Bahu membahu saling membantu. Tanpa pamrih dan rasa ingin jadi nomor satu. Hanya berbagi. Tidak lebih! Demi menjaga sebuah rasa yang sama. Kesempatan yang sama. Kebahagiaan yang tak jauh beda. Sebagai sesama manusia. Yang secara kebetulan, ditakdirkan Allah sebagai Rakyat Indonesia.

Setelah itu dilanjutkan dengan peringatan Hari Jadi TNI kita. Bagus juga kali ini. Tanpa perayaan yang gegap gempita. Mengingat kondisi negara kita yang tengah berduka. Semoga, hilang semua keraguan Rakyat kita. Hilang semua prasangka buruk. Berusaha membuat Rakyat percaya, bahwa TNI hanya menjadi pengawal Rakyat Indonesia.Yang menjadi garda terdepan untuk membebaskan Rakyat dari berbagai macam tekanan yang datang. Yang bisa menjadi kekuatan dalam membantu rakyatnya untuk mengembangkan segala sesuatu demi kepentingan bangsa dan negara. Yang menjadi pagar pelindung Rakyatnya dari berbagai ancaman, bahaya, demi menjaga keselamatan negara dan bangsa. Terlebih lagi, demi ketentraman dan kesejahteraan Rakyatnya! Walau bagaimanapun kondisi TNI kita. Ingatlah! Kekuatan TNI tidak terletak pada canggihnya peralatan dan persenjataan yang di punyai. Tapi, kekuatan TNI terletak pada “kerjasama dengan Rakyat-nya”.

Terus berganti hari-hari di bulan Oktober. Hingga peringatan Hari Pangan (16 Oktober). Peringatan yang mungkin sedikit terlupakan. Yang hampir bersamaan dengan peringatan Hari Perhubungan (17 Oktober). Terlupakan mungkin karena terlalu banyaknya beban.Yang bagi sebagian kalangan Rakyat, hal itu sudah menjadi cerita sehari-hari. Karena di atas sebutan negara kita yang katanya Agraris, yang artinya sebagian terbesar dari penduduknya tergantung hidupnya pada pertanian, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan. Bahwa masalah “bahan pangan” menjadi sesuatu yang benar-benar langka dan mahal. Tidak mudah diperoleh. Dan dibuktikan dengan diberbagai tempat di penjuru tanah air kita, masih banyak rakyat yang kesulitan untuk mendapatkan bahan pangan dengan mudah dan murah. Yang berakhir dengan kenekatan untuk mengkonsumsi “sampah”. Lihat saja, betapa Rakyat kita sudah terjebak pada berbagai macam cara untuk mendapatkan bahan pangan dengan cara “ajaib dan tidak masuk akal”. Menipu dengan sengaja bahan-bahan makanan yang ada. Dengan berbagai cara, membuat, memanipulasi kemasan, mendaur ulang, dan memasarkan bahan makanan yang SESUNGGUHNYA berbahaya bagi kesehatan mereka sendiri. Dan biarpun sudah dalam kondisi seperti itupun, ternyata masih ada saja kalangan yang belum sanggup untuk membeli. Dan kondisi kurang gizi, kelaparan,…sungguh menjadi berita yang sepertinya “tabu” buat para pemimpin kita untuk mengakuinya.

Yang tidak kalah menarik di bulan Oktober, adalah sejak dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden kita. Yang dilanjutkan dengan proses “pemilihan” para Menteri sebagai pembantunya. Sebenarnya senang juga, bahwa mereka “tidak malu”, meski berprofesi sebagai pembantu. Mereka bangga. Lihat saja, betapa antusias, para peserta audisi di kala itu. Menebar senyum dimana-mana. Dan kurang dari 1 minggu sejak dilantik menjadi menteri ( 22 Otober ), tidak berselang lama setelah peringatan Hari Keuangan ( 26 Oktober ), gonjang-ganjing kenaikan gaji para pejabat tinggi terlebih para Menteri, menjadi kado paling gress di bulan ini. Entahlah. Apa yang sesungguhnya yang ada dalam pikiran para pemimpin negeri ini. Dengan dalih apapun. Pertimbangan apapun. Sungguh TIDAK PANTAS, dilakukan dalam kondisi Rakyat yang seperti ini. Rakyat Nusantara ini merindukan para pemimpin yang tidak berusaha untuk memperkaya diri sendiri. Tapi, para pemimpin yang bisa jadi teladan. Yang berani berjuang ditengah kemiskinan dan penderitaan Rakyatnya. Yang bersedia memimpin dalam kondisi sama dengan yang dirasakan oleh Rakyatnya. Pemimpin yang mempergunakan semua yang dimilikinya untuk bangsa dan negaranya. Dan jejak langkahnya, bisa dijadikan pedoman untuk kaum muda dimasa kini dan esok lusa.

Dan yang terakhir kali. Yang mungkin banyak dinanti. Adalah peringatan Sumpah Pemuda. Sudah banyak cerita tentang sejarah di sekitar sumpah pemuda ini. Meski banyak cerita disana sini. Tapi yang pasti. Peran Pemuda dalam menjaga keutuhan bangsa ini, tak akan mudah dihapus dari sejarah panjang perjalanan bangsa yang kita cintai. Tugas para kaum muda ini, tidaklah ringan. Ditengah derasnya arus globalisasi yang ada, hanya kaum muda yang diharapkan menjadi penyelamatnya.

Kaum muda harus benar-benar mempunyai semangat kebangsaan. Harus ditanamkan perasaan kebangsaan itu. Nasionalisme adalah hal yang sangat penting. Karena jika tidak, Nusantara kita ini hanya akan tinggal cerita, dongeng dan legenda. Yang kaum mudanya sudah tak ingat lagi akan jatidiri bangsanya. Ditelan arus globalisasi yang menyilaukan dan mengkhawatirkan.

Kaum muda harus berusaha terus belajar mengejar ketinggalan, menyamai dan mengatasi kepandaian bangsa-bangsa lain. Situasi dan kondisi dijaman ini memang tidak sama dengan jaman ketika dideklarasikan Sumpah Pemuda tahun 1928. Mungkin dijaman itu, rasa nasionalisme dan patriotisme masih bercorak “cultural nasionalisme”. Dan di jaman sekarang, kaum muda yang dilahirkan dan dibesarkan di alam kemerdekaan, tak mengenal traumanya masa penjajahan. Hidup ditengah-tengah zaman yang “seakan-akan” serba cukup, dimana penuh dengan iming-iming kemewahan, meski dari hasil bantuan modal asing, dan kemajuan teknologi.Yang tidak sadar bahwa negaranya tengah menghadapi “penghisapan dan hinaan” atas rakyatnya, dengan cara hidup tertekan dibawah kekuasaan terselubung secara politik dan ekonomi oleh bangsa Asing.

Maka, konsekuensi logis dari adanya keharusan historis, dari proses pergantian generasi yang lahir sesuai dengan panggilan zaman. Kaum muda harus bisa menghayati, merenungkan dan berusaha untuk terlepas dari “kebodohan”.Hanya kaum muda yang cerdas, yang tidak bisa “dijajah” dalam bentuk apapun. Hanya kaum muda yang cerdas, yang bisa membawa Nusantara ini lebih bermartabat, berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain, ditengah kultur global dengan berbagai ikon modernitasnya yang menyilaukan. Semoga …

Related posts:

  1. Refleksi di Hari Sumpah Pemuda Kami, putera dan puteri Indonesia mengaku, bertumpah darah yang satu,...
  2. Selamat Hari Batik, Indonesia! 2 Oktober 2009! Merupakan sebuah hari yang membanggakan bagi bangsa...
  3. Sebuah Inspirasi: Berbagi di Bulan Suci Banyak cara yang dapat dilakukan untuk berbagi kebahagiaan dengan orang...
  4. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H Kepada semua pembaca, kontributor artikel, dan translator web Indonesia Berprestasi....
  5. Peringkat Keempat pada Hari Kedua SEA Games Sahabat sekalian, Kamis lalu, 11/12/2009, Indonesia mendapat angin segar...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Belum MenginspirasiMenginspirasi (+4 rating, 2 votes)
Loading ... Loading ...

2 Comments »

  • leni said:

    betul, sudah saatnya kaum muda bergerak.
    tidak boleh terlena dengan segala kenikmatan yang ada.
    karena saat ini kita belum “merdeka” sepenuhnya.
    masih banyak ketimpangan terjadi di sana-sini, walaupun mungkin statistik angka pengangguran atau pertumbuhan ekonomi terlihat membaik, pada realitanya tidak demikian..

    kadang berpikir juga, gimana caranya ya membuat anak muda Indonesia ini bisa sadar dengan kondisi yang memprihatinkan ini?
    walau saya tahu bahwa ada segelintir anak muda yang sudah tersadar, tapi lebih banyak lagi yang belum sadar.
    banyak yang hanya memasukkan berita-berita prihatin soal negeri dari telinga kanan dan mengeluarkannya segera dari telinga kiri.
    yaa, lalu saja..

    miris! ada yang punya ide, bagaimanakah bentuk pergerakan kepemudaan yang efektif untuk saat ini?

  • mishbah said:

    “miris! ada yang punya ide, bagaimanakah bentuk pergerakan kepemudaan yang efektif untuk saat ini?”

    pergerakan yang efektif itu tidak hany bersifat top-bottom, tetapi bersifat bottom-up. sekarang, bentuk pergerakan kepemudaan (biasnya mahasiswa) hanya berkutat di wilayah level elit struktur organisasi (BEM, ,’Organisasi Dakwah’,HMI, PMII, dll). tidak jauh berbeda dengan para caleg yang mendambakan kekuasaan.

    pergerakan juga harus bersifat bottom-up. atau, seandainya saya boleh mengutip tulisan Budi Hardiman, pergerakan itu harus bersifat deliberatif. mengutamakan partisipasi masyarakat dari level bawah terus menanjak hingga ke atas. (hadoohh.. berteori, hihihi)

    intinya, dimulai dari diri sendiri. tapi tidak se normatif itu. harus dibangun diri sendiri yang militan terlebih dahulu. diri sendiri yang independen, dan autentik. tidak meniru atau terhegemoni oleh doktrin2 yang seolah2 benar. lalu lalu, harus berani turun ke masyarakat bawah. melihat realita yang sebenarnya. tidak melulu memikirkan kentingan pribadi, prestasi individual. titik

    ~maksih, ka
    ~hihi

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.